Fisiologi Pendengaran
Fisiologi Pendengaran
Penulis : Johanes Andrew, S.Ked & Helen Limarda, S.Ked
Pendahuluan
Pendengaran adalah persepsi energi suara oleh saraf. Pendengaran sendiri melibatkan dua askpek yaitu indentifikasi suara dan lokalisasinya. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat. Gelombang suara terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi akibat kompresi molekul udara dan bergantian dengan daerah bertekanan rendah akibat peregangan molekul. Setiap alat yang mampu menghasilkan gangguan pola molekul udara adalah sumber suara seperti contohnya adalah garpu tala.1,2,3
Suara ditandai oleh nada, intensitas dan warna suara. Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran. Semakin besar frekuensinya, semakin tinggi nadanya. Telinga dapat mendeteksi gelombang suara dengan frekuensi 20 hingga 20.000 hertz (Hz). Intensitas suara bergantung pada amplitudo gelombang suara. Semakin besar amplitudo, semakin keras suara. Kekuatan suara diukur dalam bentuk desibel (dB). Warna suara bergantung pada overtune yaitu frekuensi tambahan yang mengenai nada dasar seperti contohnya nada C pada terompet terdengar berbeda dengan nada C pada piano.2,3,4
Proses Pendengaran
Proses pendengaran dimulai saat gelombang suara datang ke telinga lalu aurikula mengarahkan gelombang suara ke meatus akustikus eksternus. Ketika gelombang suara sampai ke membran timpani, membran timpani akan bergetar. Membran timpani akan bergetar dengan pelan ketika merespon kepada gelombang suara frekuensi rendah dan akan bergetar dengan cepat pada gelombang suara frekuensi tinggi. Bagian sentral dari membran timpani terhubung dengan tulang malleus sehingga getaran tersebut ditransmisikan dari membran timpani ke malleus, incus lalu stapes. Ketika stapes bergetar, getaran tersebut ditransmisikan ke jendela oval dan getaran tersebut 20 kali lebih kuat dibandingkan getaran pada membran timpani. Getaran tersebut menyebabkan pergerakan gelombang cairan pada perilimfe di koklea. Gelombang cairan tersebut ditransmisikan dari skala vestibuli ke skala timpani lalu ke jendela bundar dan menyebabkan jendela bundar menonjol ke arah telinga tengah. Pergerakan gelombang cairan ini menyebabkan membran vestibular bergetar dan menimbulkan pergerakan cairan endolimfe pada ductus koklearis sehingga menyebabkan membran basilaris (membran reisner) bergetar dan menyebabkan sel-sel rambut dari organ corti bergerak berlawanan dengan membran tektorial. Pergerakan ini menyebabkan pembengkokan dari sterosilia dan menghasilkan impuls saraf yang akan diteruskan ke nervus koklearis.1,2
Gambar 2 Fisiologi
Telinga1
Organ corti terletak di atas membran basilaris mengandung sel rambut auditorik yang merupakan reseptor suara yang terdiri dari sel rambut dalam dan sel rambut luar. Sel rambut dalam mengubah gaya mekanis suara (pergerakan cairan koklea) menjadi impuls listrik pendengaran. Karena sterosilia sel reseptor ini berkontak dengan membran tektorium yang kaku, mereka tertekuk maju-mundur ketika membran basilaris bergetar. Deformasi mekanis ini secara bergantian membuka dan menutup kanal kation berpintu mekanis di sel rambut sehingga terjadi perubahan potensial aksi. Sterosilia tersusun dalam barisan dengan tinggi yang berjenjang dari rendah ke tinggi menyerupai pipa organ. Tip links menghubungkan ujung-ujung sterosilia dalam barisan-barisan berdekatan. Ketika membran basilaris bergerak ke atas, berkas sterosilia menekuk ke arah membran tertingginya dan meregangkan tip links dan membuka kanal kation yang dilekatinya. Masuknya K+ tambahan ini mendepolarisasi sel rambut. Ketika membran basilaris bergerak ke arah berlawanan, kumpulan rambut tertekuk menjauhi sterosilia yang tertinggi dan membuat tip link menjadi kendur dan menutup semua kanal sehingga pemasukan dari K+ terhenti dan sel rambut mengalami hiperpolarisasi.1,2
Peranan sel rambut luar berbeda dengan sel rambut dalam dimana sel rambut luar tidak memberikan sinyal ke otak tentang suara yang datang. Sel-sel rambut luar secara aktif berubah panjang sebagai respon terhadap perubahan potensial membran yang disebut sebagai elektromotilitas. Sel rambut luar memendek pada saat depolarisasi dan memanjang saat hiperpolarisasi. Perubahan panjang ini memperkuat atau menegaskan gerakan membran basilaris. Modifikasi pergerakan membran basilaris ini meningkatkan atau menyetel stimulasi pada sel rambut dalam.1,2
Pelepasan neurotransmitter dari sel rambut organ corti menghasilkan impuls saraf yang akan diterima oleh nervus vestibulokoklearis (VIII) cabang koklea yang akan diteruskan ke area auditori primer 41 dan 42 di korteks cerebri lobus temporalis.1,2
Daftar Pustaka
- Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy & Physiology 15th ed. 2017. p 601-10.
- Sherwood L. Introduction to Human Physiology 8th Edition. 2012. p 231-40.
- Sembulingam K, Sembulingam P. Essentials of Medical Physiology 6th edition. 2012. p 1016-21.
- Hall, John E. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology 13th Edition. Elesevier. 2016. p 673-82.
Komentar
Posting Komentar